Sunday, November 4, 2012

Mata itu (bagian 3)

Baca kisah sebelumnya disini

Kulanjutkan kisahku setelah lama tidak sempat menuliskannya. Sampai mana ya? Oh ya. Kulanjutkan obrolan kami di luar rumah di dekat pagar. Di dekat pagar itu memang ada dudukan dari semen yang biasa dibuat untuk pelindung diatas jembatan kecil kali, agar anak-anak tidak terperosok ke dalamnya.

Kami asyik ngobrol kesana-kemari, ngalor dan ngidul, entah apa yang kami bicarakan saat itu, yang jelas kuingat adalah tiba-tiba dia menyebut seorang teman deketku perempuan saat aku masih SMP. Ya si Dilla, darimana dia tahu ya? Wah aku agak suuzon nih. Tapi gak apalah, hal itu membuatku kemudian terdiam. Aku tidak mengerti, mengapa dia mengatakan aku masih berhubungan dengan si Dilla. Tahu dari mana, dan informasi dari mana kalau aku masih hubungan dengan si Dilla, padahal itu sama sekali tidak benar. Kami, aku dan Dilla cuma sepasang sahabat, keluarganya sudah seperti keluargaku sendiri. Itu tak lain dan tak bukan adalah aku sudah seperti kakak Dilla sendiri, karena dia tidak punya saudara laki-laki. Kami tidak ada perasaan apa-apa, walaupun pada awalnya memang aku yang mengejar-kejar dia. Tapi setelah kutahu keluarganya yang alim dan santri, aku lebih ingin hubungan normal pertemanan saja, melihat kakek buyutnya adalah seorang kiayi, aku tak tega menodai keturunannya dengan sifat-sifat jelekku andaikan itu ada.

Wah, gawat nih, ternyata si Dia itu anaknya sangat "sensi" banget. Dia ingin hubunganku dengannya itu diam-diam saja dulu, jangan terang-terangan. Dia tak ingin aku berhubungan lagi dengan Dilla.

Sambil kami mengobrol diluar yang isis semilir angin malam, aku lihat ayahnya mondar-mandir seperti setrikaan sedang mengawasi kami berdua. Dia (ayahnya) tidak ingin sesuatu terjadi pada anak kesayangannya. Apalagi mungkin melihatku anak ingusan yang masih bau kencur dan lagi, mungkin agak kere kali. Wah, masa bodoh, dalam hati kecilku.
Kujelaskan padanya, bahwa aku tak ada hubungan apa-apa dengan si Dilla itu kecuali teman biasa saja. Tapi gak tahu mengapa tiba-tiba dia malah marah dan menangis, sepertinya dia mendapatkan informasi yang tidak benar mengenai hubunganku dengan Dilla. Syeitan,  paling bingung dan salah tingkah bila melihat wanita mengangis, aku juga bukan tipe lelaki romantis yang kemudian beraksi dengan memeluk dan menenangkannya. Entah mengapa bibir ini jadi kelu dan kaku. Ingin juga sih kupeluk, tapi aku takut sama bapaknya, dikiranya aku mengambil kesempatan dalam kesempitan. Bila aku gak menenangkannya risikonya aku dianggap cowok cuek dan tak punya hati. 
Ihhh, sialan .... apa yang harus kuperbuat nih?
Akhirnya kuputuskan untuk berpamitan pulang kepadanya, dengan perasaan yang masih galau dan tanda tanya, mengapa dia sampai berpikiran begitu.

      ooooOOOOOOOoooooooo

Masuk Daging Keluar Kepala Orang

Di Jawa ada seorang Kiai yang sangat di segani di daerahnya, dia memiliki beberapa anak lelaki, salah satunya baru lulus SMU, setelah SMU sang Kiai ingin anaknya sekolah ke Amerika, karena dia mendengar negara adidaya itu adalah negara yang telah maju dalam dunia pendidikan dan Teknologi. Maka dikirimkanlah anaknya itu untuk sekolah di salah satu universiti terkenal disana.
 
Setelah menghabiskan dan menyelesaikan masa studinya disana selama kurang lebih lima tahun, sang anak tersebut pulanglah kembali ke kampung asal orang tuanya. Sebagai orang tua yang bangga akan anaknya yang lulusan Luar Negeri, pak Kiai lalu mengumumkan ke balai desa Kelurahan dengan disaksikan oleh banyak warga yang berdatangan, karena pak Kiai sekaligus mengadakan acara syukuran atas kedatangan dan kelulusan anaknya itu.
 
Setelah memberi sambutan pembukaan dan muqadimah, maka pak Kiai mempersilahkan anaknya untuk menceritakan kondisi dan situasi di Amerika saat ini. Kemudian sang anak berpidato di balai kelurahan.
"Saudara-saudara, perlu saudara ketahui bahwa Amerika Serikat adalah negeri yang sangat canggih, salah satu kecanggihan disana yang paling saya kagumi adalah bagaimana seekor sapi yang dimasukkan kedalam mesin, maka dari mesin itu akan mengeluarkan daging giling yang sudah dikemas dalam kaleng. Demikianlah salah satu kehebatan negeri adidaya tersebut."
 
Setelah berpidato singkat, maka kemudian sang anak mengakhirinya dengan salam. Kemudian semua hadirin bertepuk tangan dan terheran-heran. Pak Kiai yang mendengarnya pun merasa bangga.
 
Dilain tempat yang masih dalam satu kecamatan, pak Kiai tidak ketinggalan pula mengajak anaknya untuk menceritakan kecanggihan negeri adidaya tersebut. Dan kembali pula anaknya menceritakan tentang penggilingan daging yang berasal dari sapi hidung tersebut. Dari beberapa tempat selalu itu saja yang diceritakan anaknya, bukan hal yang lain. Lalu kemudian pak Kiai mengatakan kepada anaknya.
 
"Owh, cuma itu saja ya kehebatan Amerika itu, masuk sapi hidup keluar daging kalengan. Ketahuilah anakku, disini itu lebih hebat dari Amerika sana. (sambil menunjukkan mimik kekecewaan) Disini nih, dimasukkan daging, yang keluar kepalamu itu."
 
(dinukil dari cerita humor Gus Dur)

Thursday, October 25, 2012

Do'a untuk anak perempuanku


Wahai anak perempuanku yang kusayangi,
Bila kamu bersuami kelak...
 

Janganlah mengucapkan kata-kata yang tidak pantas kepada suamimu, walaupun kamu lebih sholeh dan lebih berilmu darinya,
yang demikian itu lebih baik bagimu, menyelamatkan dirimu dari api neraka dan meninggikan derajatmu di sisi Allah.
 

Walaupun suamimu suka berkata kasar kepadamu...
anggap saja itu suatu kelebihan yang akan menggugurkan dosa-dosamu di saat kamu muda, karena kamu pernah berkata kasar kepada ibumu atau ayahmu...
 

Sabarlah terhadap perilaku yang tidak menyenangkan walaupun hatimu sakit, karena sekali lagi Allah akan membuatmu semakin muda dan membuat wajahmu semakin bercahaya. Malaikat akan selalu bersamamu, mendoakanmu ketika kamu dalam kesusahan.
 

Wahai anakku, tidak ada akhlak yang paling baik dalam perdebatan kecuali diam dan mengalah. Karena dengan begitu hatimu akan bertambah luas dan dalam dalam menyikapi hidup ini dan akan membuatmu semakin dewasa.
Kata orang bijak, di dunia ini tidak ada orang dewasa, yang ada adalah orang yang bisa mengendalikan diri dalam kemarahan.
 

Anakku, semoga Allah sentiasa menjagamu dari segala keburukan dan kesusahan. Amin.

(seperti yang pernah kutuliskan pada status fb ku)

Takbiran Idul Adha 1433H

Seiring dengan kumandang takbir bertalu-talu, meneriakkan kebesaran Sang Kholiq. Hati ini semakin kelu dan syahdu. Sudah dua hari raya ini kunikmati tanpa sensasi dan isi. Semua itu dikarenakan kesehatanku menurun ketika menjelang datangnya hari-hari bahagia itu. Ramadhan dua bulan yang lalu juga tidak bisa menikmati indahnya malam Lailatul qodar dan malam-malam tarawih, karena terkapar tak berdaya di kasur dan bantal.

Hari semakin kelam ketika seseorang yang kukasihi ternyata bersikap acuh tak acuh dan cuek karena itu sudah biasa. Sudah biasa sakit, dan dia juga yang harus merawatnya. Jadi, bosan kayaknya mendengar segala keluh kesahku. Bahkan mungkin dia sudah bosan menjadi istriku. Kutelan dan kukunyah kekesalan dan kekecewaannya setiap hari. Bagiku itu sudah seperti camilan yang enak dan menggairahkan. Karena omelan dan cacian itu bisa meningkatkan kesabaran dan memperkuat rohani. Bukan karena menghibur diri. Tetapi karena memang itu sudah menjadi keseharianku saat ini dan juga sudah berlangsung kurang lebih tiga belas tahun yang lalu.

Itulah sabar. Sabar itu tak dibatasi oleh waktu. Belajar sabar itu sampai mati, sampai bertemu dengan Syurga, sampai bertemu dengan Sang Pencipta. Kesabaran itulah sifat ahli syurga. Syurga bukanlah tempat bagi para pemarah dan pendendam. Karena syurga itu berisi orang yang murah senyum, pemaaf dan pengikhlas kesalahan orang yang pernah mendoliminya. Syurga itu milik orang-orang yang kuat. Orang yang kuat adalah orang yang bisa menahan amarahnya, walaupun dia sanggup membalas (ingat mutiara kata Syaidina Ali K.W). Iya, K.W, itulah nama belakang ku. Bisa berarti juga Karamallahu Wajhah (karomah pada wajahnya). Semoga Allah memberi karomah pada wajahku yang tidak terlalu ganteng ini.

Semoga diawal tahun 1434H mendatang, amalanku semakin baik dan berkualitas. Sholat berkualitas, dzikir yang khusuk dan do'a yang makbul. Itulah inti dari kehidupan dan kebaikan di dunia ini selain seorang Istri yang solehah. Hemmm, semoga Allah memberiku seorang istri yang solehah, yang selalu taat suami tanpa syarat. Bukan berarti ingin tambah istri, tetapi semoga Allah memperbaikai dan mentarbiyah istri yang sekarang menjadi istri yang kudambakan. Amin.

Thursday, November 10, 2011

Mengapa jadi gak ada ide ya?

Menulis adalah sebuah seni dari otak kita yang menggambarkan imajinasi
seseorang akan suatu kejadian atau peristiwa, baik yang berkesan atau tidak dalam hidupnya. Menulis juga dibutuhkan skil dan keahlian khusus, terutama menulis ilmiah. Tentulah menulis jenis ini sangat tergantung kepada teori dan metode tertentu, dan bukan merupakan menulis sastra.


Menulis sastra atau seni itulah inti dari tulisan ini. Dimana seni adalah menyangkut rasa seseorang. Rasa seseorang tergantung kepada mood atau konsentrasi dia saat itu. Bila mood itu ada, maka seseorang itu bisa menuliskan banyak sesuatu yang menghinggapi pikirannya. Bila tidak, maka walau dipaksa beribu kalipun, maka tulisan apa pun tidak akan
keluar dari otaknya.


Beginilah pola atau ritme seorang penulis yang terjadi pada penulis saat ini. Dianya tergantung moodnya. Mood bisa diperoleh dengan mengamati sesuatu, atau bisa jadi di saat tidak mood, itulah mood untuk menulis hal-hal negatif tentang dirinya, bahkan tentang orang lain. Bahkan
seorang penulis akan menuliskan kemarahan yang ada di dalam hatinya ke dalam bentuk tulisan. Emosi itu bisa menyentuh tetapi bisa juga membuat orang lain juga merasakan keamarahannya. 


Lihatlah seorang penyair, apa yang dituliskan adalah gambaran kegelisahan jiwanya dan apa yang dia ekspresikan adalah apa yang ada di alam fikiran dan hatinya saat itu.
Menulis sebuah cerpen nih sama juga menulis syair, lagu atau apa pun yang kaitannya dengan rasa.

Thursday, September 1, 2011

Diary Awal September 2011

Kira-kira jam dua belas tepat aku terbangun di sebelah istriku yang sedang sakit. Rupanya aku bermimpi. Dalam mimpiku yang cukup panjang itu aku bertemu dengan kekasihku dulu. Kami ngobrol berdua seperti orang yang lama tidak bertemu, saling menanyakan keadaan dan kabar kami berdua selama ini. Dia bercerita tentang saat-saat dimana dia melanjutkan kuliah sarjananya ketika sudah berkeluarga. Aku senang mendengarnya…

Kemudian aku pun menceritakan tentang hal yang sama, bagaimana kuliah pasca sarjana yang sedang kutempuh saat ini. Kami kelihatan sangat menikmati obrolan kami sehingga beberapa waktu kami saling memandang, dan seolah-olah saat ini seperti sembilan belas atau dua puluh tahun yang lalu.

Kemudian dia terdiam sejenak beberapa waktu sambil menghela nafas panjang. Lalu, kutanyakan kepadanya mengapa dahulu meninggalkanku…

Dia terdiam sesaat, kemudian menjawab,”Sebenarnya bukan aku yang meninggalkanku.Tetapi kamu yang membiarkanku pergi. Seandainya kamu katakan saat itu bahwa kamu sanggup berbuat sekuat tenagamu untuk membahagiakanku, tentulah aku tidak akan pergi meninggalkanmu.”

Aku terdiam sejenak dan mengingat-ingat saat kami bicara terakhir kali di telepon kos-kosan dia kala itu. Dalam hati kubenarkan kata-katanya, memang benar apa yang dia katakan saat itu, dan aku tidak bisa menjawab apa-apa hanya karena aku saat itu masih menuntut ilmu dan hanya mengandalkan kiriman orang tua. Ah, timbul sedikit sesal dihatiku, mengapa saat itu tidak kuiyakan pertanyaannya.

Ya Allah, itulah kesalahan pertamaku terhadap orang yang kucintai.

Tetapi sekarang, aku tidak mau mengulangi kesalahan itu untuk kedua kalinya. Aku tidak ingin kesempatan membahagiakan seseorang yang spesial dalam hidupku hilang begitu saja. Aku ingin membahagiakan istri yang telah memberiku tiga orang anak yang lucu-lucu dan cerdas. Dia yang telah menemaniku dalam suka dan duka selama dua belas tahun terakhir ini.

Maka, ketika kuterbangun dari mimpi, kemudian aku sholat sunnah beberapa rakaat yang aku bisa, lalu kudatangi istriku, kukecup keningnya di saat dia tertidur. Dia tidak tahu, sesaat tadi aku bermimpi tentang kekasihku yang dulu, yang kemudian menyadarkanku, betapa aku selama ini mungkin mengabaikan pengorbanan seorang istri yang begitu besar kepada suaminya.

Istriku…. Selamat … setelah sekian lama, aku menyadari betapa kamu begitu mencintaiku…

Diary Akhir Agustus 2011

31 Agustus 2011 pagi

Istriku …

Ketika kau tanyakan kepadaku, “Apakah kamu mencintaiku sungguh?”

Sebenarnya tiada kata-kata yang keluar dari bibirku, bukan karena aku tidak mencintaimu. Tetapi karena tidak ada kata-kata yang paling indah yang bisa ku katakan untuk menggambarkannya.

Karena pengorbanan yang begitu besar yang telah kamu lakukan selama ini kepadaku. Bukan hanya karena kamu telah menemaniku selama dua belas tahun terakhir ini, mengarungi suka dan duka bersama, sedih dan susah bersama, tetapi kamu tetap bersamaku, walaupun kadang aku ini menjadi orang yang sangat menjengkelkan bagimu. Walaupun terkadang mulut ini berkata kasar kepadamu, tetapi itu bukanlah suatu kesengajaan, karena sesungguhnya aku ingin yang terbaik bagimu.

Walaupun kamu bukan makhluk sempurna, tetapi kamu makhluk yang luarbiasa. Kamu sanggup melayaniku ketika dalam keadaan letih dan lelah menderamu setelah seharian berkhidmat untuk rumah dan anak-anakmu.

Sayangku, mungkin bukan hanya cintaku yang kuberikan kepadamu, tetapi mungkin kecintaan Allah atas apa yang kamu perbuat dan lakukan untukku.

Sayangku, semoga cepat sembuh…. Aku selalu mencintaimu.