Kumpulan cerita-cerita pendek dan panjang, pengobat hati yang lagi lara.
Friday, April 17, 2020
Kegetiran itu kembali
Tuesday, April 15, 2014
Mimpi Aneh
Hari ini adalah hari jum'at ke sekian kalinya Nano harus mempersiapkan sound system musholla, dan ke sekian kali pula ia harus pulang lebih lambat di banding teman-temannya, sampai-sampai ibunya bilang kalo dia itu ngathok (jawa: artinya menjilat) sama sekolah atau gurunya agar dapat nilai bagus dan sebagainya. Kata-kata ibunya yang tidak enak itu tak membuat Nano mundur dari pengurus musholla. Bahkan dia semakin semangat mengurus musholla, apalagi karena mimpi semalam yang menurut dia sungguh aneh.
Iya, aneh. Bagaimana tidak aneh, dalam mimpi itu dia memakai ghomis dan surban layaknya seorang kiayi, bahkan seperti di film wali songo. Bagaimana tidak aneh, dia yang selama ini sangat awam dalam agama, tahu-tahu dalam mimpi itu di tunjuk menjadi penasehat raja dan disaksikan seluruh penduduk negeri, karena pelantikan itu dilakukan di sebuah lapangan yang sangat luas. Bahkan teman-temannya satu kelas mencibir dan mengata-ngatai dengan perkataan yang tidak enak di dengarkan. Kemudian para pelayan dan dayang menyiraminya dengan air kembang yang harum dan semerbak yang dia rasakan sampai bangun dari tidurnya.
Dia bangun tidur dalam kondisi masih tidak percaya dan keheranan. Bagaimana mungkin mimpi itu ketika dia bangun masih terasa bekas air di tangannya. Mungkinkah itu ibunya yang membangunkannya? Ah tidak. Ibunya masih tertidur lelap, karena jam masih menunjukkan jam setengah tiga malam. Tanpa pikir panjang dia langsung bangun dan menuju kamar mandi untuk buang air dan mengambil air wudhu'.
Suasana malam jum'at ini memang aneh, tiba-tiba setelah mimpi itu dia jadi pengin sholat dan meminta petunjuk, apakah arti dari mimpinya itu. Dulu, guru agamanya pernah bilang, kalau mimpi aneh atau bagus, hendaknya berdo'a minta petunjuk dan perlindungan dari kejahatan mimpi tersebut. Tapi dia berharap, mudah-mudahan mimpi ini adalah pertanda bagus buat dirinya.
Wah, jam sudah menunjukkan jam sebelas lewat tiga puluh menit, jama'ah sudah pada datang untuk sholat jum'at. Semua siswa yang muslim sholat jum'at baik pria maupun wanita, karena ada tugas agama untuk meringkas isi kutbah jum'at setiap minggunya. Tanpa canggung, Nano mengumumkan kepada jama'ah untuk merapatkan shaffnya baik laki-laki maupun perempuan di tempatnya masing-masing. Dan hari itu musholla Al Kautsar penuh sesak oleh jema'ah.
Kebetulan petugas adzan dhuhur hari itu lagi tidak masuk, maka sebagai cadangannya, Nano terpaksa maju ke depan untuk adzan sekaligus menjadi bilalnya. Suara Nano yang khas dan mendayu dayu menghanyutkan pendengarnya yang juga ikut menjawabnya. Nano dahulu adalah seorang vokalis band, tapi karena teman-teman satu grupnya tidak ada yang masuk sekolah favorit ini, maka bakat Nano yang terpendam itu tidak tersalurkan. Hanya adzan dan iqomah lah yang sekarang sering dia lakukan. Ya, ternyata Allah memiliki rencana di balik semua itu. Allah inginkan kebahagiaan Anak itu mulai saat ini. Allah akan menanamkan sedikit-demi sedikit kecintaan Agama kepadanya.
Mata Itu (Bagian 4)
Setelah malam yang galau itu, aku berpikir bahwa hubunganku dengannya tidak perlu dilanjutkan lagi. Sepertinya aku memang bukan tipe cowok romantis yang bisa mengerti perasaan wanita. Belum lagi aku dimarahi ayah karena make motor sampe malem, padahal ijinnya cuma sebentar.
Ahhh... sudahlah ... masa depan ku terbentang di depan mata, ujian nasional menanti disana. Aku tidak mau mengecewakan orang tua dengan gagal dalam melewatinya.
Hari minggu berlalu begitu saja, tanpa kegiatan apa pun. Hati ini masih campur aduk, makan gak enak, duduk gak enak, nonton tivi terasa hambar, ahh....Akhirnya ibuku memanggilku.
"Oni..., tanaman yang di sebelah pagar itu mulai kering, kamu siram deh, ntar keburu mati ...", perintah ibuku.
"Ya Bu ...", aku segera bergegas ke gudang mengambil selang dan menyalakan air jet pump untuk menyiram tanaman dekat pagar depan.
Dan memang benar, bougenvil pink dan palem kecil di pojok itu memang sedikit layu dan kurang makan. Dengan bersiul-siul kecil, kusiram tanaman itu dengan kasih sayang.... ala maak.
Ebtanas Tiba
Hari berganti hari, bulan berganti bulan Ujian Ebtanas (saat itu) semakin dekat. Dengan segenap pikiran dan tenaga kukerahkan kemampuanku untuk menghadapinya. Kuminta bantuan seorang temanku yang kuanggap lebih pintar dariku, sebut saja namanya Amrul.
Si Amrul ini, walaupun badannya kecil dan kelihatan kurang bertenaga, tetapi dia anak yang cerdas. Nilai pelajaran yang susah-susah dia selalu diatasku, Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi dia selalu diatas. Aku juga heran, kenapa anak-anak yang kecil dan ceking disekolahku cenderung memiliki otak yang lebih encer daripada anak yang bongsor dan badannya gede. Apakah anak yang kerempeng itu rajin tirakat ya? Begitu kata hatiku, dan itu memang kemudian terjawab, karena mereka memang rajin puasa senin-kamis. Aku sih gak terlalu ambil pusing masalah tirakat mereka, karena memang pengetahuan agamaku masih kurang kali.
Akhirnya, hari-hari yang ditunggu pun tiba, EBTANAS.
EBTANAS saat itu artinya adalah Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional. Cukup jelas bukan? Kalau masih bingung, tanya saja sama kakekmu .... he he he
Yang paling berkesan dari Ebtanas ini adalah saat ujian mata pelajaran matematika. Kebetulan yang menjaga adalah orang luar sekolah. Dan kebetulannya lagi, yang menjaga adalah calon dari bulikku (tante) yang paling muda, atau kata orang jawa namanya ragil. Walaupun akhirnya tidak jadi menikah sama bulik.
Saat aku sudah menyelesaikan soal matematikaku, kuberi kode dia untuk keluar ruangan. Eh, benar juga, pak guru itu keluar dari ruangan ujian cukup lama, mungkin sekitar setengah jam. Kesempatan itu kugunakan sebaik-baiknya untuk menolong teman-teman dengan menyebarkan lembar jawaban keliling ruangan. Ada yang terima, ada juga yang tidak percaya akan jawabanku. Ya sudah, yang penting aku niat amal, just it!
Alhamdulillah, setelah keluar nilaiku cuma sembilan (merendah nih ye!), yang mencontek jawabanku rata-rata dapat delapan, tapi ada juga yang dapet nilai 9,25, ah dia untung satu soal aja.
Tapi tidak apa-apa, aku cukup puas dengan nilai NEM saat itu, lima puluh empat koma lima puluh. Yaa... gak jelek-jelek amat deh!
Yang penting tidak ada nilai lima disitu, PMP dapet sembilan koma enam tujuh, disyukuri aja deh.
Akhirnya berbekal nilai yang cukup bagus, aku sangat pede menghadapi ujian masuk perguruan tinggi negeri.
Saking pedenya dengan nilai NEM yang bagus itu, aku jadi lengah dan kurang persiapan. Singkat cerita, aku gagal UMPTN maupun ujian masuk BPLK saat itu. Jadilah, orang tuaku marah-marah dan memberikan ultimatum, kalau masuk perguruan tinggi swasta, lebih baik tidak kuliah.
Karena obsesiku adalah gelar sarjana, maka kutolak beberapa tawaran untuk mendaftarkan diri ke Diploma tiga, walaupun itu perguruan tinggi negeri.
Akhirnya, kunikmati satu tahun masa penantian itu dirumah, dengan segala kegiatan untuk menghabiskan waktu saja.
Singkat cerita, tahun 1993 aku berhasil diterima di FMIPA Universitas Brawijaya Malang. Aku mengambil Program Studi Matematika. Mengapa aku pilih Matematika, yang kata orang bilang pelajaran susah dan sebagainya. Tetapi, aku memang suka sama pelajaran ini karena tidak bertele-tele seperti orang sastra, yang harus berbicara ngalor-ngidul dulu untuk menyampaikan pesannya.
Satu tambah satu sama dengan dua, titik. Itulah mungkin sebagian kecil dari filosofiku yang tidak mau repot terhadap apa pun yang terjadi dalam hidup ini. Termasuk dalam menghadapi makhluk yang namanya perempuan. Aku gak terlalu ngoyo kalau seorang cewek menolak dekat denganku.
"Ah... jaim aja kali ... secara fisik aku gak jelek-jelek amat kok!", begitu kataku dalam hati.
(bersambung)
Sunday, November 4, 2012
Mata itu (bagian 3)
Kami asyik ngobrol kesana-kemari, ngalor dan ngidul, entah apa yang kami bicarakan saat itu, yang jelas kuingat adalah tiba-tiba dia menyebut seorang teman deketku perempuan saat aku masih SMP. Ya si Dilla, darimana dia tahu ya? Wah aku agak suuzon nih. Tapi gak apalah, hal itu membuatku kemudian terdiam. Aku tidak mengerti, mengapa dia mengatakan aku masih berhubungan dengan si Dilla. Tahu dari mana, dan informasi dari mana kalau aku masih hubungan dengan si Dilla, padahal itu sama sekali tidak benar. Kami, aku dan Dilla cuma sepasang sahabat, keluarganya sudah seperti keluargaku sendiri. Itu tak lain dan tak bukan adalah aku sudah seperti kakak Dilla sendiri, karena dia tidak punya saudara laki-laki. Kami tidak ada perasaan apa-apa, walaupun pada awalnya memang aku yang mengejar-kejar dia. Tapi setelah kutahu keluarganya yang alim dan santri, aku lebih ingin hubungan normal pertemanan saja, melihat kakek buyutnya adalah seorang kiayi, aku tak tega menodai keturunannya dengan sifat-sifat jelekku andaikan itu ada.
Wah, gawat nih, ternyata si Dia itu anaknya sangat "sensi" banget. Dia ingin hubunganku dengannya itu diam-diam saja dulu, jangan terang-terangan. Dia tak ingin aku berhubungan lagi dengan Dilla.
Sambil kami mengobrol diluar yang isis semilir angin malam, aku lihat ayahnya mondar-mandir seperti setrikaan sedang mengawasi kami berdua. Dia (ayahnya) tidak ingin sesuatu terjadi pada anak kesayangannya. Apalagi mungkin melihatku anak ingusan yang masih bau kencur dan lagi, mungkin agak kere kali. Wah, masa bodoh, dalam hati kecilku.
Masuk Daging Keluar Kepala Orang
"Saudara-saudara, perlu saudara ketahui bahwa Amerika Serikat adalah negeri yang sangat canggih, salah satu kecanggihan disana yang paling saya kagumi adalah bagaimana seekor sapi yang dimasukkan kedalam mesin, maka dari mesin itu akan mengeluarkan daging giling yang sudah dikemas dalam kaleng. Demikianlah salah satu kehebatan negeri adidaya tersebut."
Thursday, October 25, 2012
Do'a untuk anak perempuanku
Wahai anak perempuanku yang kusayangi,
Bila kamu bersuami kelak...
Janganlah mengucapkan kata-kata yang tidak pantas kepada suamimu, walaupun kamu lebih sholeh dan lebih berilmu darinya,
yang demikian itu lebih baik bagimu, menyelamatkan dirimu dari api neraka dan meninggikan derajatmu di sisi Allah.
Walaupun suamimu suka berkata kasar kepadamu...
anggap saja itu suatu kelebihan yang akan menggugurkan dosa-dosamu di saat kamu muda, karena kamu pernah berkata kasar kepada ibumu atau ayahmu...
Sabarlah terhadap perilaku yang tidak menyenangkan walaupun hatimu sakit, karena sekali lagi Allah akan membuatmu semakin muda dan membuat wajahmu semakin bercahaya. Malaikat akan selalu bersamamu, mendoakanmu ketika kamu dalam kesusahan.
Wahai anakku, tidak ada akhlak yang paling baik dalam perdebatan kecuali diam dan mengalah. Karena dengan begitu hatimu akan bertambah luas dan dalam dalam menyikapi hidup ini dan akan membuatmu semakin dewasa.
Kata orang bijak, di dunia ini tidak ada orang dewasa, yang ada adalah orang yang bisa mengendalikan diri dalam kemarahan.
Anakku, semoga Allah sentiasa menjagamu dari segala keburukan dan kesusahan. Amin.
(seperti yang pernah kutuliskan pada status fb ku)
Takbiran Idul Adha 1433H
Seiring dengan kumandang takbir bertalu-talu, meneriakkan kebesaran Sang Kholiq. Hati ini semakin kelu dan syahdu. Sudah dua hari raya ini kunikmati tanpa sensasi dan isi. Semua itu dikarenakan kesehatanku menurun ketika menjelang datangnya hari-hari bahagia itu. Ramadhan dua bulan yang lalu juga tidak bisa menikmati indahnya malam Lailatul qodar dan malam-malam tarawih, karena terkapar tak berdaya di kasur dan bantal.
Hari semakin kelam ketika seseorang yang kukasihi ternyata bersikap acuh tak acuh dan cuek karena itu sudah biasa. Sudah biasa sakit, dan dia juga yang harus merawatnya. Jadi, bosan kayaknya mendengar segala keluh kesahku. Bahkan mungkin dia sudah bosan menjadi istriku. Kutelan dan kukunyah kekesalan dan kekecewaannya setiap hari. Bagiku itu sudah seperti camilan yang enak dan menggairahkan. Karena omelan dan cacian itu bisa meningkatkan kesabaran dan memperkuat rohani. Bukan karena menghibur diri. Tetapi karena memang itu sudah menjadi keseharianku saat ini dan juga sudah berlangsung kurang lebih tiga belas tahun yang lalu.
Itulah sabar. Sabar itu tak dibatasi oleh waktu. Belajar sabar itu sampai mati, sampai bertemu dengan Syurga, sampai bertemu dengan Sang Pencipta. Kesabaran itulah sifat ahli syurga. Syurga bukanlah tempat bagi para pemarah dan pendendam. Karena syurga itu berisi orang yang murah senyum, pemaaf dan pengikhlas kesalahan orang yang pernah mendoliminya. Syurga itu milik orang-orang yang kuat. Orang yang kuat adalah orang yang bisa menahan amarahnya, walaupun dia sanggup membalas (ingat mutiara kata Syaidina Ali K.W). Iya, K.W, itulah nama belakang ku. Bisa berarti juga Karamallahu Wajhah (karomah pada wajahnya). Semoga Allah memberi karomah pada wajahku yang tidak terlalu ganteng ini.
Semoga diawal tahun 1434H mendatang, amalanku semakin baik dan berkualitas. Sholat berkualitas, dzikir yang khusuk dan do'a yang makbul. Itulah inti dari kehidupan dan kebaikan di dunia ini selain seorang Istri yang solehah. Hemmm, semoga Allah memberiku seorang istri yang solehah, yang selalu taat suami tanpa syarat. Bukan berarti ingin tambah istri, tetapi semoga Allah memperbaikai dan mentarbiyah istri yang sekarang menjadi istri yang kudambakan. Amin.
Thursday, November 10, 2011
Mengapa jadi gak ada ide ya?
seseorang akan suatu kejadian atau peristiwa, baik yang berkesan atau tidak dalam hidupnya. Menulis juga dibutuhkan skil dan keahlian khusus, terutama menulis ilmiah. Tentulah menulis jenis ini sangat tergantung kepada teori dan metode tertentu, dan bukan merupakan menulis sastra.
Menulis sastra atau seni itulah inti dari tulisan ini. Dimana seni adalah menyangkut rasa seseorang. Rasa seseorang tergantung kepada mood atau konsentrasi dia saat itu. Bila mood itu ada, maka seseorang itu bisa menuliskan banyak sesuatu yang menghinggapi pikirannya. Bila tidak, maka walau dipaksa beribu kalipun, maka tulisan apa pun tidak akan
keluar dari otaknya.
Beginilah pola atau ritme seorang penulis yang terjadi pada penulis saat ini. Dianya tergantung moodnya. Mood bisa diperoleh dengan mengamati sesuatu, atau bisa jadi di saat tidak mood, itulah mood untuk menulis hal-hal negatif tentang dirinya, bahkan tentang orang lain. Bahkan
seorang penulis akan menuliskan kemarahan yang ada di dalam hatinya ke dalam bentuk tulisan. Emosi itu bisa menyentuh tetapi bisa juga membuat orang lain juga merasakan keamarahannya.
Lihatlah seorang penyair, apa yang dituliskan adalah gambaran kegelisahan jiwanya dan apa yang dia ekspresikan adalah apa yang ada di alam fikiran dan hatinya saat itu.
Menulis sebuah cerpen nih sama juga menulis syair, lagu atau apa pun yang kaitannya dengan rasa.
Thursday, September 1, 2011
Diary Awal September 2011
Kira-kira jam dua belas tepat aku terbangun di sebelah istriku yang sedang sakit. Rupanya aku bermimpi. Dalam mimpiku yang cukup panjang itu aku bertemu dengan kekasihku dulu. Kami ngobrol berdua seperti orang yang lama tidak bertemu, saling menanyakan keadaan dan kabar kami berdua selama ini. Dia bercerita tentang saat-saat dimana dia melanjutkan kuliah sarjananya ketika sudah berkeluarga. Aku senang mendengarnya…
Kemudian aku pun menceritakan tentang hal yang sama, bagaimana kuliah pasca sarjana yang sedang kutempuh saat ini. Kami kelihatan sangat menikmati obrolan kami sehingga beberapa waktu kami saling memandang, dan seolah-olah saat ini seperti sembilan belas atau dua puluh tahun yang lalu.
Kemudian dia terdiam sejenak beberapa waktu sambil menghela nafas panjang. Lalu, kutanyakan kepadanya mengapa dahulu meninggalkanku…
Dia terdiam sesaat, kemudian menjawab,”Sebenarnya bukan aku yang meninggalkanku.Tetapi kamu yang membiarkanku pergi. Seandainya kamu katakan saat itu bahwa kamu sanggup berbuat sekuat tenagamu untuk membahagiakanku, tentulah aku tidak akan pergi meninggalkanmu.”
Aku terdiam sejenak dan mengingat-ingat saat kami bicara terakhir kali di telepon kos-kosan dia kala itu. Dalam hati kubenarkan kata-katanya, memang benar apa yang dia katakan saat itu, dan aku tidak bisa menjawab apa-apa hanya karena aku saat itu masih menuntut ilmu dan hanya mengandalkan kiriman orang tua. Ah, timbul sedikit sesal dihatiku, mengapa saat itu tidak kuiyakan pertanyaannya.
Ya Allah, itulah kesalahan pertamaku terhadap orang yang kucintai.
Tetapi sekarang, aku tidak mau mengulangi kesalahan itu untuk kedua kalinya. Aku tidak ingin kesempatan membahagiakan seseorang yang spesial dalam hidupku hilang begitu saja. Aku ingin membahagiakan istri yang telah memberiku tiga orang anak yang lucu-lucu dan cerdas. Dia yang telah menemaniku dalam suka dan duka selama dua belas tahun terakhir ini.
Maka, ketika kuterbangun dari mimpi, kemudian aku sholat sunnah beberapa rakaat yang aku bisa, lalu kudatangi istriku, kukecup keningnya di saat dia tertidur. Dia tidak tahu, sesaat tadi aku bermimpi tentang kekasihku yang dulu, yang kemudian menyadarkanku, betapa aku selama ini mungkin mengabaikan pengorbanan seorang istri yang begitu besar kepada suaminya.
Diary Akhir Agustus 2011
Istriku …
Ketika kau tanyakan kepadaku, “Apakah kamu mencintaiku sungguh?”
Sebenarnya tiada kata-kata yang keluar dari bibirku, bukan karena aku tidak mencintaimu. Tetapi karena tidak ada kata-kata yang paling indah yang bisa ku katakan untuk menggambarkannya.
Karena pengorbanan yang begitu besar yang telah kamu lakukan selama ini kepadaku. Bukan hanya karena kamu telah menemaniku selama dua belas tahun terakhir ini, mengarungi suka dan duka bersama, sedih dan susah bersama, tetapi kamu tetap bersamaku, walaupun kadang aku ini menjadi orang yang sangat menjengkelkan bagimu. Walaupun terkadang mulut ini berkata kasar kepadamu, tetapi itu bukanlah suatu kesengajaan, karena sesungguhnya aku ingin yang terbaik bagimu.
Walaupun kamu bukan makhluk sempurna, tetapi kamu makhluk yang luarbiasa. Kamu sanggup melayaniku ketika dalam keadaan letih dan lelah menderamu setelah seharian berkhidmat untuk rumah dan anak-anakmu.
Sayangku, mungkin bukan hanya cintaku yang kuberikan kepadamu, tetapi mungkin kecintaan Allah atas apa yang kamu perbuat dan lakukan untukku.
Sayangku, semoga cepat sembuh…. Aku selalu mencintaimu.
Monday, January 4, 2010
Tak mau mencintaimu lagi ...
Kala hati ini kosong dari seseorang
Tetapi ada seseorang
Yaa ..
Seseorang yang selalu menunggumu di rumah
seseorang yang selalu menyambutmu dengan senyuman
Seseorang yang selalu gelisah tatkala kau tidak berada di sampingnya ...
Seseorang yang selalu memujimu tatkala semua orang mencacimu ...
Kemudian di sana ...
Ada beberapa kepala yang membutuhkan kekuatan tanganmu
Tiga kepala yang membutuhkan perlindunganmu
Lalu ...
Disana ...
Kau menemukan seseorang yang dahulu pernah hilang dari hatimu ...
Seolah hendak mencabut ruhmu kembali ke pangkuannya ...
Mengembalikan anganmu kepada kegilaan yang telah hilang ...
Mengembalikan sesuatu yang dahulu hilang ...
Tidak ...
Kamu harus bilang tidak pada hatimu ...
Karena ...
Hatimu hanya milik-NYA
Hatimu hanya singgasana-NYA
Jangan biarkan nafsu menguasai hatimu ...
Bunuhlah ia sekarang juga ...
Sebelum terlambat ...
Walaupun senyumnya selalu menggodamu
Katakan dalam hatimu
Wiridkan dalam hatimu
Ucapkan seribu kali ...
"Aku tak mau mencintaimu lagi ..." 1000 x
Wednesday, December 17, 2008
Mata itu (bagian 2)
"Iya", jawabku.
"Eh, gimana kabar ibumu? baik-baik saja kah?"
"Baik ..., salam juga ya buat ibu kamu"
"Yap, ntar kusampaikan deh!", jawabnya sopan.
"Assalamu'alaikum ...", belum ada jawaban.
"Assalamu'alaikum ..."
"Wa'alaukum salam ...", ku dengar jawaban lirih dari dalam. Rupanya ibunya yang menjawab dari dalam. Ibu itu masih berbalut mukena putih, rupanya beliau habis sholat. Sedangkan aku, ah iya ya, aku tadi belum sholat, padahal tadi sudah kudengar adzan Isya', ah masa bodo, nanti dulu sholatnya, Isya' kan sampai tengah malam, kataku dalam hati.
Tak lama kemudian, datanglah yang kutunggu-tunggu dari tadi, sudah lima belas menit aku menunggunya. Ehmmm, aku menata posisi dan cara bicaraku, supaya tidak kelihatan gugup di depannya. Begitu dia sudah muncul di depan kamarnya, langsung ku ucap salam, "Assalamu'alaikum ..."
"Wa'alaikum salam ..."
"Bagaimana kabarmu?", kataku membuka pembicaraan.
"Baik." Jawabnya datar.
"Ehmmm, kamu ada acara tidak malam ini?"
"Ehmmm, ada acara apa ya? Apa kita berdua saja?" Tanyanya penuh selidik.
"Ya..., aku ingin kita ngobrol yang enak dengan suasana yang santai, gitu ..."
"Apa di sini tidak cukup santai? Apa di sini banyak orang?"
"Ehm, bukan begitu ..." Kataku sambil mencari-cari alasan yang tepat untuk mengajaknya pergi ke restoran untuk makan malam.
"Aku ingin ngajak kamu makan malam ..." Kataku lagi.
"Wah, maaf kalau begitu ..., kebetulan ... aku sudah makan malam habis maghrib tadi."
"Wah, sial aku ..." Jawabku dalam hati.
"Oke, kalau begitu, kita ngobrol-ngobrol di luar saja, di deket pagar rumah kamu itu, biar bisa menikmati udara malam yang sejuk." Jawabku kemudian, dan dia menganggukkan kepala tanda setuju.
(bersambung ...)
Tuesday, September 16, 2008
Mata Itu ... (Bagian 1)

Di sebuah pasar
Seperti biasa, sore hari sepulang kerja, aku selalu melewati pasar itu. Pasar yang selalu membuat kemacetan di pagi hari dan sore hari dimana orang-orang pada pergi dan pulang dari pekerjaannya masing-masing. Jam lima kurang beberapa menit, aku selalu melaluinya ketika bulan ramadhan tiba. Saat itu memang banyak orang lalu-lalang di depan pasar yang juga di pinggir jalan di daerah yang cukup padat itu. Tak seperti biasanya aku yang fokus kepada motorku untuk mencari celah diantara kendaraan roda empat untuk dapat menyalipnya dan biar lebih cepat sampai di rumah. Tiba-tiba mataku tertuju kepada sosok hitam, bak gagak hitam di tengah hingar bingar jalanan kota Jakarta yang hiruk pikuk. Ya, sosok wanita bercadar hitam, dengan tubuh yang diselimuti dengan kain hitam pekat. Tampak peluh di sekitar kelopak matanya. Aku tertegun sejenak ...
Mata itu ... ya ... mata itu sepertinya aku pernah melihatnya. Seprtinya aku pernah mengenalnya, bukan hanya mengenal. Bahkan aku sering memandang mata itu dengan hati penuh debaran dan degupan. Apalagi ada sedikit rambutnya yang kelihatan, dan rambut itu, lurus, hitam dan mengkilat. Dan kulit yang berada di balik cadar itu juga adalah kulit yang dulu pernah dan selalu kulihat di alam sadarku. Dahulu, ketika aku masih jahiliyah, tidak tahu dan awam tentang agama dan hukum-hukum agama. Aku yang dahulu tidak kenal sholat, mengaji bahkan aku masih suka merokok, main band dan kesana-kemari dengan geng-ku.
Dahulu, mata itu begitu dalam menusuk ke dalam relung hatiku. Mata yang begitu lekat di hatiku ... mata itu sangat ku kenal. Tapi, satu pertanyaan yang ada di hatiku, "Apakah itu mungkin si dia?" Dia yang dulu pernah singgah di hatiku, dia yang dulu pernah sangat berarti bagiku. Dia yang dahulu selalu menghias mimpi-mimpiku? Ah, tidak mungkin. Tidak mungkin dia. Hatiku menyangkalnya, hatiku menolaknya. Dia yang kulihat itu masih sangat muda, tidak ada kerut di dahi dan kelopak matanya. Sedangkan dia yang kukenal itu, sekarang umurnya sudah tiga puluh lima tahun, sudah beranak satu. Entah, berapa anaknya sekarang. Entah, berada dimana dia sekarang. Aku masih sering memimpikannya, padahal aku sudah tidak mengharapkannya datang, walau dalam mimpi sekalipun.
Ya Allah, berdosakah aku, salahkah aku apabila mengingat masa-masa itu. Salahkah aku bila membayangkan, bahwa mata itu adalah dirinya yang dulu pernah singgah dalam masa-masa laluku. Ya Allah, kalau memang itu doa, tolong pertemukan kami lagi. Ada sesuatu yang harus kutebus pada masa laluku itu, ada sesuatu yang masih aku berhutang padanya. Ada satu asa yang dulu tak pernah bisa terwujud, karena jurang kami yang mungkin terlalu lebar buatnya. Jurang materi yang sebenarnya bukanlah prinsip.
Ya Allah, satu sisi dari kehidupanku merindukannya. Satu sisi dari masa laluku mengharapkannya, masih ada sesuatu dalam hatiku yang tertinggal bersamanya. Ya Allah ampunkan hambamu ini.
Malam yang gelisah
Jam setengah enam sore, motorku sudah sampai di halaman rumah. Ketiga anakku sudah berada dihalaman, entah dari mulai kapan. Kelihatannya mereka baru main-main tanah, kulihat si Sulung tangannya berlepotan tanah, sedang membersihkan sesuatu, setelah kutahu ternyata sesuatu itu adalah kulit kerang kering yang di temukannya entah di jalan atau di lapangan sebelah. Kemudian ku standard-kan motorku di sebelah pohon rambutan yang tumbuh persis di rumah kontrakan kami yang sederhana. Ku ucapkan do'a masuk rumah, kemudian salam. Bagi yang belum hapal, begini kurang lebih bunyinya,
"Allaahumma inni as-aluka khairal-muulaji wa khairal mukhroji bismillahi walajnaa wa bismillahi kharajnaa wa-alallaahi tawak-kalnaa."
Artinya : "Yaa Allah, aku minta kepada-Mu baiknya rumah yang kumasuki dan rumah yang kutinggalkan. Dengan nama Allah kami masuk rumah, dengan nama Allah aku keluar rumah, serta kepada-Nya aku berserah diri.
Kudengar di dapur, istriku sedang menyiapkan sesuatu buat kami berbuka puasa nanti. Tampak dia sibuk di depan kompor minyak tanah yang sudah usang dan karatan. Setelah tahu kalau aku telang pulang, dia langsung datang menyambutku dengan senyuman. Walaupun kutahu, saat itu dia sudah keletihan setelah seharian mengerjakan tetek bengek pekerjaan rumah yang melelahkan. Kemudian, dia menyuruh anak-anak untuk segera pulang dan mandi, karena sebentar lagi sudah masuk waktu maghrib untuk daerah Jadetabek dan sekitarnya. Tak seperti hari biasa, yang di sambut ciuman, karena kami masih berpuasa, maka berciuman dengan istri sendiri pun dilarang.
Sepulang dari terawih, aku langsung merebahkan tubuhku di spring bed, walaupun busanya sudah mulai menipis, lumayan juga tubuh ini bisa di rebahkan, setelah sekian waktu, tubuh ini melakukan aktifitasnya di siang hari, apalagi aku ikutan tarawih yang 20 raka'at tanpa witir. Niatnya ntar pas tahajud, witir sebagai penutupnya.
Tapi, Ya Allah, aku masih teringat peristiwa tadi sore di depan pasar di pinggir jalan itu. Pikiranku melayang kemana-mana, seandainya itu dia, seandainya mata indah itu memang miliknya. Siapa yang tahu, kalau mata itu memang bukan miliknya, tapi milik orang lain yang mirip, sangat mirip dengannya. Malam itu kututup mataku dengan perasaan yang agak gelisah, trus kemudian aku berdo'a agar Allah menghilangkan was-was dan segera memberikan mataku kantuk, biar nanti sahur bangunnya gampang.
Tak lama kemudian, istriku sudah berbaring di sebelahku, memelukku erat. Aku tak berani menceritakan apa yang terjadi tadi sore. Takut itu akan menyinggung dan menyakiti perasaannya, aku sangat menyayanginya. Tapi, mata itu, yang telah menghidupkan masa laluku kembali, hanya dalam bentuk yang berbeda, bentuk yang memang selama ini aku harapkan. Kuharapkan agar si dia memiliki kepribadian sebagai seorang muslimah sejati, yang menjaga auratnya dengan sempurna, mendidik anak-anaknya secara Islam. Alangkah bahagianya aku seandainya itu terjadi. Walaupun dia tidak menjadi milikku, artinya, beban yang selama ini kutanggung sudah terkurangi bahkan bisa hilang sama sekali.
Alangkah bahagianya melihat dia memakai busana seperti itu, menyelubungi seluruh tubuhnya dengan kain, dan juga wajahnya yang cantik ditutup dengan cadar atau purdah. Tentu tidak akan mengurangi kecantikannya, bahkan kecantikannya akan bertambah, kecantikan luar dan dalam. Kecantikan sebagaimana Siti Mariyam, ibunda Nabi Isa AS, atau Fatimah putri Nabi Muhammad SAW. Semoga mimpiku malam ini menyenangkan.
(bersambung ...)
Tuesday, June 3, 2008
Pengantar
Pembaca yang budiman, selamat datang di situs kumpulan cerpen-cerpen pembuka hati, cerpen yang diharapkan mampu menggugah hati kita yang selama ini tertidur, yang diharapkan dapat memberi pencerahan, baik bagi pembacanya maupun bagi penulisnya.
Yang jelas, penulis hanya berharap kepada Allah Ta'ala, agar tulisan ini nantinya dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya. Amin.
Kenapa blog ini saya beri nama cerpen sony, karena memang ini adalah kumpulan cerpen hasil karya saya (Sony Wibisono - penulis) , penulis berharap bahwa kumpulan cerita-cerita ini akan lebih bermakna dan berkesan bagi pembacanya. Dan terlebih lagi, memberi perubahan pada kehidupan pembaca yang sedang belajar atau memperdalam ajaran Islam.
Sebagian besar dari isi tulisan ini adalah berdasarkan pengalaman pribadi penulis dan orang-orang yang berada di dekat penulis, adapun nama-nama dan tokoh-tokoh yang ada bisa jadi penulis samarkan dengan kata sandi atau yang sejenisnya.
Tapi untuk sementara cerpen-cerpen itu belum bisa kami tampilkan, masih dalam bentuk draf. Silakan sabar menunggu untuk beberapa saat.
Selamat menikmati dari manapun Anda berasal. Dan dimanapun Anda berada.
Wassalam
Penulis